PPID Universitas Airlangga

BEM FEB UNAIR Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Mahasiswa

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

UNAIR NEWS – Untuk meningkatkan aksesibilitas komunikasi bagi penyandang tunarungu, Departemen Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR  menggelar pelatihan bahasa isyarat pada Rabu (13/8/2023). Kegiatan yang bertajuk “Kelas Sunyi” itu merupakan kerja sama antara BEM FEB UNAIR dan Tim Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). 

Dalam Kelas Sunyi kali ini, BEM FEB UNAIR menghadirkan Ika Irawan, ketua Tim Bahasa Isyarat Indonesia dan Aksesibilitas Surabaya sebagai pemateri. Termasuk Alya Adjeng, anggota Tim Bahasa Isyarat Indonesia dan Aksesibilitas Surabaya sebagai penerjemah. Keduanya berhasil menarik antusias peserta pada sesi praktek belajar bahasa isyarat.

Meningkatnya kesadaran atas pentingnya inklusi dan aksesibilitas komunikasi bisa membuat bahasa isyarat kian menjadi perhatian banyak orang. Pelatihan itu merupakan langkah penting. Khususnya bagi mahasiswa memahami sangat vitalnya bahasa isyarat. Terutama dalam membangun jembatan komunikasi dan memfasilitasi partisipasi yang lebih aktif dari individu tunarungu.

Sebagai pemateri, Ika Irawan menyampaikan topik tentang “Bahasa Isyarat Sebagai Komunikasi yang Efektif dengan Penyandang Tunarungu”. Ia menyampaikan bahwa bahasa isyarat bukan hanya serangkaian gerakan tangan. Tapi, juga melibatkan ekspresi wajah, posisi tubuh, dan intonasi suara. 

“Bahasa isyarat adalah bahasa komunikasi penuh yang mengandung banyak nuansa dan rincian,” katanya.

Bukan Hanya untuk Tunarungu

Meski dirancang untuk komunikasi dengan komunitas tunarungu, bahasa isyarat Indonesia juga memiliki manfaat yang signifikan bagi orang normal atau pendengar. Salah satunya saat komunikasi lisan tidak memungkinkan. Bahasa isyarat dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan efisien. Misalnya, dalam konser musik atau saat berada di tempat yang sangat bising.

Selain itu, Ika juga mengatakan bahwa Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) tidak boleh diajarkan oleh orang normal atau pendengar. Terdapat sejumlah syarat yang mesti terpenuhi dalam pengajaran bahasa isyarat.

“Belajar bahasa isyarat Indonesia harus dengan penyandang tunarungu. Karena, itu adalah bahasa alami mereka dari lahir. Jika diajarkan oleh orang normal, akan banyak salah pengertian dan pemahaman,” ujarnya.

Ika Irawan, panitia dan peserta dalam pelatihan bahasa isyarat pada Rabu (13/08/2023)(foto: Olive Octavia)
Ika Irawan, panitia dan peserta dalam pelatihan bahasa isyarat pada Rabu (13/08/2023) (foto: Olive Octavia)

Penulis: Rosali Elvira Nurdiansyarani

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkini
Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp